Kenapa Orang Berkepribadian Introvert Mudah Lelah Saat Berada di Keramaian?

Terus terang, saya adalah seorang introvert, jadi dalam keseharian saya lebih banyak diam, mendengarkan, dan berbicara seperlunya saat diminta. Ada juga saat saya seperti orang gila yang banyak bicara ketika saya bertemu sahabat atau sedang mabuk.

Dulu, saya sempat bekerja sebagai seorang ekstrovert. Pekerjaan tersebut mengharuskan saya berada di mall yang ramai dan menyapa pengunjung satu persatu. Lalu apa yang terjadi? Saya menjadi sangat-sangat lelah, dan di bulan berikutnya saya mencoba bekerja santai, lebih tepatnya tidak ngapa-ngapain, tidak menyapa pengunjung, hanya melihat saja. Hasilnya? Saya masih lelah, sedikit berkurang tapi tetap saja saya harus tidur lebih cepat.

Baca juga8 Tahapan Pembetukan Perilaku dalam Psikologi


kenapa introvert menjadi mudah lelah saat di keramaian


Kemudian terlintas di benak saya, apakah saya tidak bisa menjadi seorang ekstrovert atau paling tidak bergaya seperti ekstrovert? Lebih jauh, kamu bisa membaca penjelasan di bawah ini, mengapa seorang introvert menjadi mudah lelah saat 'berpura-pura' menjadi ekstrovert.

Seorang introvert atau ekstrovert, tidak bisa memilih mau jadi introvert atau ekstrovert. Menurut penelitian, adanya aktivitas yang berbeda di otak, yang membedakan introvert dan ekstrovert.

Introvert adalah pribadi yang subjektif, dalam artian, ketika ia melihat, mendengar, mencium, merasakan apapun di luar dirinya, maka ia akan mencocokkan dengan dirinya. Apakah saya suka dengan ini? Apakah saya terbantu dengan informasi ini? Apakah saya terganggu dengan aroma ini? Dan seterusnya… dan seterusnya…

Baca juga: Mungkinkah Anak dengan 2 Pusar Kepala Akan Menjadi Nakal?

Ekstrovert sebaliknya. Mereka adalah pribadi yang objektif dalam artian menerima informasi, sensory apaun di luar dirinya dengan sebagaimana sensory/rangsangan itu. Misalnya, jika melihat bau wangi, maka ia akan berpikir, “Hmmm… bau apa ini ya… wangi sekali” cukup sampai disitu, tanpa berpikir apakah bau ini berguna/mengganggu/saya sukai dan seterusnya… dan seterusnya seperti orang introvert

Ketika orang introvert berpura-pura jadi ekstrovert, berarti ia harus siap menerima banyak limpahan sensory/rangsangan yang bagi ekstrovert tidak menjadi masalah. Makanya orang ekstrovert banyak ditemui di tempat keramaian, di perkumpulan orang- orang, dimana ia tidak akan menguraikan semua rangsangan/sensory luar yang ia temukan. Berbeda dengan introvert, ia akan menguraikan satu persatu sensory /rangsangan di luar dirinya.

Seperti ketika pergi ke kantin yang rame, orang ekstrovert tidak akan terganggu dengan suara keras musik, orang berbicara, orang tertawa, atau dentingan piring gelas yang beradu atau lampu yang menyorot. Berbeda dengan introvert, ia akan menguraikan suara keras musik menjadi, “Aduh, ini musik apa sih? Kok suara penyanyinya mellow gak jelas ya… “ lalu terdengar orang tertawa, “Aih… ketawanta melengking… bikin sakit kuping..” lalu AC yang kurang dingin , “kok gerah banget ya, orang rame begini ac nya cuma 2 biji… !” lalu lampunyang terlalu terang, “aduh, lampunya bikin silau, gimana bisa makan dengan nyaman nih…” itu terjadi terus menerus di bawah sadar. Sehingga si introvert jadi kelelahan.

Berbeda dengan introvert, ekstrovert justru tidak bermasalah dengan hal itu. Ia berpikir “Saya kesini mau makan, ya makan aja…” ketika ia mendengar suara musik, “hihihi… suaranya kayak kecekek, lucu deh” mendengar orang tertawa, “kenceng amat ketawanya, brarti volume suara saya harus dikencengin biar bisa eksis ngobrol” dan seterusnya… dan seterusnya…

Kira-kira dengan justifikasi bawah sadar yang teramat komprehensih dari seorang introvert sedemikian, tentulah ia akan merasa sangat kelelahan ketika berada di lingkungan ekstrovert. Makanya seorang introvert bukannya tidak suka bergaul atau bersosialisasi, tapi mereka memiliki batasan untuk penerimaan rangsangan /sensory di luar dirinya.

Posting Komentar

1 Komentar