Apakah Umat Manusia Akan Tetap Bekerja dan Berkarir di Surga Nanti?

Apakah Umat Manusia Akan Tetap Bekerja dan Berkarir di Surga Nanti?

CASHDIK.COM - Munculnya pertanyaan yang terkesan lucu tapi logis ini makin mempertegas bahwa konsep surga itu sangat manusiawi-anthropomorphism. Konsepnya lahir di tengah ilmu pengetahuan tentang alam semesta dan budaya manusia yang masih sangat terbatas.

Katerbatasan pengetahuan para “konseptor” surga (dan neraka) itu menyebabkan mereka gagal membuat deskripsi surga yang universal dan aktual.

Baca juga: Kenapa Mata Kucing Bisa Menyala Dalam Gelap?


Apakah surga itu ada

Pada abad-abad 1 - 7 Masehi (periode lahirnya Kristen-hingga Islam) penggambaran surga sebagai tempat yang rindang, ditumbuhi aneka tanaman buah, ada sungai-sungai, tersedia aneka makanan dan tersedia pula pelayan dan pasangan untuk melampiaskan syahwat seksual, mungkin sudah dianggap deskripsi surga yang ideal-paripurna.

Baca juga: Daftar Lengkap Pengguna Plat Nomor Kendaraan Pejabat

Ideal, bagi orang-orang yang terlahir dan besar di lingkungan padang pasir dan savanah, terutama bagi para pemuda yang ikut berjuang dan berperang menegakkan agama yang menjanjikan surga tersebut.

Seandainya para konseptor dan umat yang diindoktrinasi dengan konsep surga pada masa itu adalah orang-orang yang hidup di belantara Sumatera, Kalimantan, Papua, atau Amazon pastilah gambaran surga tidak akan se-absurd yang tertulis di kitab suci.

Mana mungkin pemuda-pemuda Asmat (Papua) atau Dayak (Kalimantan), misalnya, pada periode abad 1 -7 M, akan tertarik dengan surga yang digambarkan sebagai tempat yang banyak sungai dengan tumbuhan buah-buahannya. Sebab, sehari-hari hidup mereka sudah ada di dalam “surga”.

Baca jugaPenjelasan Medis Kenapa Fenomena Mati Suri Bisa Terjadi

Jadi, ketika gambaran surga yang usang itu selalu diulang-ulang dan dipaksakan agar diterima oleh manusia modern, pikiran manusia modern jadi terusik. Sebab karya iptek dan seni manusia sudah bisa menghadirkan objek dan kondisi yang melampaui gambaran surga versi kitab-kitab suci tersebut.

Karena deskripsi surga menurut kitab suci (agama Abrahamik khususnya) terlalu biologis, maka wajar dipertanyakan apakah di surga nanti wujud dan fungsi kehidupan kita sama dengan saat ini—jasad biologis.

Jika ya, kita hidup dengan jasad biologis, bukankah itu artinya kita hanya pindah tempat saja? Jika betul kita hanya pindah tempat apakah itu artinya kita juga akan mengalami aktivitas yang sama dengan aktivitas di dunia ini? 

Perlu ada pertanian, peternakan, transportasi dan lain-lain? Ada yang berprofesi sebagai seniman untuk memberikan hiburan? Atau benar-benar tinggal menikmati apa pun yang kita inginkan, seperti dilukiskan dalam gambar di bawah ini?

Kehidupan di Surga

Debat soal deskripsi kehidupan surgawi itu tidak akan pernah menemukan ujungnya. Semakin dideskripsikan, apalagi dengan dalil-dalil kitab suci, surga terasa semakin absurd.

Baca juga: Kenapa Penis Tak Bertulang? Para Ilmuan pun Mencari Tahu

Kesimpulan. Apakah orang masih bekerja dan berkarier di Surga nanti? Tidak akan ada jawaban yang bisa diterima semua orang, bahkan oleh para penganut agama-agama yang mengajarkan eksistensi surga itu sendiri.

Mari kita coba kesampingkan dulu soal bagaimana bentuk surga yang sesungguhnya. Coba kita tanyakan ke diri kita masing-masing, apakah kita sudah pantas masuk ke surga? Sebegitu yakinnya dirimu bisa surga?

Posting Komentar

0 Komentar