Pengertian Gangguan Kepribadian Ganda, Gejala dan Prosesnya

Pengertian Gangguan Kepribadian Ganda, Gejala dan Prosesnya

Pernah menonton film Split (2017)? Film ini berkisah tentang seseorang yang memiliki kepribadian ganda atau Multiple Personality Disorder (MPD)  yang sekarang mendapat sebutan atau istilah baru yaitu Dissociative Identity Disorder atau DID

Kepribadian ganda / Dissociative Identity Disorder (DID)

Split berkisah bukan hanya 2 atau 3 melainkan 24 kepribadian sekaligus yang hidup dalam 1 tubuh (Kevin). Dalam film, diketahui bahwa kepribadian tersebut muncul karena trauma masa lalu (penganiyayaan), kepribadian yang baru muncul untuk melindungi kepribadian asli (Kevin) supaya tak dianiyaya oleh ibunya. Benarkah sesimple itu?

Baca juga: Trik Psikologi yang Sangat Bermanfaat Namun Jarang Diketahui Orang

Dissociative Identity Disorder atau DID adalah kondisi berat dimana kepribadian seseorang terbagi menjadi dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Salah satu kepribadian dapat mengambil alih kepribadian utama dalam suatu individu atau seseorang.

Seperti yang disebutkan di atas, kerpibadian ganda Umumnya disebabkan oleh kejadian traumatis yang dialami individu tersebut di masa kecilnya. Bentuk trauma ini bisa berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang.


Kepribadian ganda / Dissociative Identity Disorder (DID) / Trauma


Meski penyebabnya bisa beragam dan para psikolog sepakat bahwa 90% penyebabnya berasal dari traumatis masa kecil, seperti penganiyayaan, pemerkosaan, dan pelecehan fisik maupun emosional yang terjadi berulang-ulang. 

Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatis, yaitu dengan Disosiasi.

Baca juga: Trik Psikologi untuk Membuat Seseorang Jatuh Cinta dengan Mudah

Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya.

Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan.

Proses Pertama: anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami "out of body experience" yang membuat ia "terlepas" dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung.

 Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.

Proses Kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telah diciptakan.


Kepribadian ganda / Dissociative Identity Disorder (DID) / Trauma


Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya.

Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak identitas baru untuk mengatasinya. Ketika kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman.

Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama, yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.

Baca juga: Apakah Jumlah Kejahatan Lebih Banyak Dibanding Kebaikan?

Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus, bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara berbicara dan karakter yang berbeda.

Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh kondisi stres.

Posting Komentar

0 Komentar