Awal Mula Penyebab Terjadinya Kerusuhan di Papua

CASHDIK.COM - Belakangan ini terjadi kerusuhan di sebagian wilayah Papua. Hal ini dinilai sebagai buntut dari perlakuan masyarakat (ormas, dan aparat) terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Sebenarnya apa yang menyulut emosi Warga Papua hingga menimbulkan kerusuhan?

Semuanya bermula pada tanggal 17 Agustus 2019, tepat di hari kemerdekaan RI ke-74. Di hari tersebut ada isu (kemungkinan hoaks) mengenai perusakan bendera merah putih oleh mahasiswa asal Papua di Surabaya.

Baca juga: Penjelasan Lengkap Mengenai Politik Etis atau Politik Balas Budi


Penyebab kerusuhan papua


Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti apakah betul bahwa mahasiswa asal Papua tersebut benar-benar melakukan perusakan bendera merah putih, dan membuangnya ke dalam got.

Hal tersebut tidak memiliki bukti yang valid. Foto-foto (yang katanya) tersebar di grup-grup Whatsapp, belum jelas kebenarannya. Mungkin memang bendera merah putih ditemukan di dalam got atau entah bagaimana kronologi foto yang disebar, tetapi tidak diketahui siapa pelaku atau orang yang melakukan hal tersebut. Kebetulan saja bendera itu (mungkin) jatuh di got dekat asrama mahasiswa Papua.

Mengutip pernyataan Dorlince Iyowau, selaku juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP),

"Sebenarnya kalau pengerusakan bendera itu tidak. Karena tadi pagi sampai tadi siang, (bendera merah putih) itu masih terpasang," kata Dorlince dari Kompas.com., Jumat (16/8/2019).

Kesalahpahaman itu, tutur Dorlince, berawal saat beberapa mahasiswa Papua, termasuk dirinya, keluar asrama untuk membeli makanan pada siang hari. Baca juga:

Namun, saat kembali ke asrama, tiang beserta bendera Indonesia sudah tidak ada di asrama tersebut. "Soal itu kami tidak tahu. Karena kami dari luar, masuk, ada beberapa kawan juga masuk, kami tidak tahu apa-apa. Kami kaget tiba-tiba kok benderanya gini-gini (patah)," tutur dia.

Baca juga: Apakah Manusia Akan Tetap Bekerja dan Berkarir di Surga Nanti?

Dorlince berupaya mengklarifikasi kejadian tersebut pada ormas yang mengepung asrama mahasiswa Papua namun mendapat penolakan dari massa.

"Tentara masuk depan asrama disusul lagi Satpol PP lalu merusak semua pagar. Mereka maki kami dengan kata-kata rasis," kata Dorlince.

Akibatnya, kata dia, sejumlah kelompok ormas yang memadati asrama turut bersikap reaksioner dengan melemparkan batu ke dalam asrama.

"Kami terkurung di aula. Ormas, tentara, dan Satpol PP masih di luar pagar, belum masuk," ujar dia.

Massa yang mengepung dan berdemo di depan asrama Papua di Surabaya, tindakan mereka cukup represif. Di beberapa media pun mengatakan bahwa massa yang mengepung asrama Papua, sambil berteriak kata-kata rasisme.


Duduk perkaranya ada di situ.


Tindakan rasisme yang terjadi di Surabaya adalah buntut dari rentetan kerusuhan yang terjadi di Papua, senin pagi (19/08). Tindakan rasisme tersebut dijadikan alat provokasi oleh beberapa oknum di Papua, sehingga terjadilah kerusuhan di sana.


Opini tentang penyebab kerusuhan Papua

Pertama, berita hoaks di Indonesia ini selalu jadi topik yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Hoaks dan gosip merupakan hal yang tidak ada bedanya; argumen tanpa ada kejelasan dan bukti yang valid.

Lihat, bagaimana information overload bisa membuat kerusuhan hingga di beberapa wilayah di Indonesia. Orang-orang (khususnya orang Indonesia) punya decision-making yang lemah, apalagi jika diperhadapkan dengan berita-berita mengenai politik sosial, nasionalisme, dsb. Semuanya merasa benar dengan kebohongan yang mereka pegang, bukannya dicari dahulu kebenaran aslinya, malah kebohongan tersebut cepat sekali disebarluaskan.

Baca juga: Apakah Operasi Plastik Benar-benar Pakai Plastik?

Tanpa teknologi internet, Indonesia bisa merdeka. Sekarang ada teknologi internet, Indonesia serasa mau tercerai-berai.


Penyebab kerusuhan papua


Kedua, mari kita berbicara mengenai nasionalisme. Membela tanah air dengan cara menegur orang yang merusak simbol negara adalah salah satu hal paling nasionalisme yang bisa dilakukan pemuda bangsa.

Tapi, memarahi orang yang merusak simbol negara hingga memaki-makinya serta mengeluarkan kata-kata rasis kepada orang tersebut, sejujurnya itu bukan nasionalisme yang sebenarnya. Nasionalisme tidak dibangun atas dasar ideologi siapa yang paling benar. Tidak!

Nasionalisme berdiri di atas ideologi pancasila. Ingat bunyi sila terakhir? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semua umat manusia di Indonesia punya hak; untuk dihargai, untuk bekerja sama, untuk hidup dan bahkan untuk dihukum sesuai hukum yang ada, dan bukannya dikepung dalam arena main hakim sendiri.


Percuma nasionalis, kalau rasa kemanusiaan dilupakan.

Lucu rasanya melihat masyarakat yang bergerilya mengepung sekelompok orang-orang (yang belum pasti) yang melakukan tindakan perusakan bendera merah putih. Padahal, di sisi lain banyak sekali koruptor-koruptor negara yang seharusnya lebih di-gerilyakan untuk dikepung dan diusir atau dihukum.

Iya, ini beda konteks. Tapi coba kita berpikir lebih luas lagi, jangan membuat hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah dan damai malah dipersulit. Sedangkan, hal-hal besar dan kotor malah bisa terselesaikan dengan mudah.

Ketiga, kita Indonesia. Itu yang sering dilupakan oleh orang Indonesia, bahwa dia adalah orang Indonesia. Meskipun kamu orang Jawa, Batak, Betawi, Makassar, Manado, Papua, dan masih banyak lagi. Semua harusnya sudah menyatu tanpa melihat lagi perbedaa

Posting Komentar

0 Komentar