Pembahasan Lengkap Mengenai Ilmu Filsafat, Pengertian, Sejarah dan Manfaatnya

CASHDIK.COM - Apa yang dimaksud dengan filsafat (philosophy)? Pengertian filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang menggunakan logika, metode, dan sistem untuk mengkaji masalah umum dan mendasar mengenai berbagai persoalan, seperti; pengetahuan, akal, pikiran, eksistensi, dan bahasa.

Secara etimologis kata filsafat berasal dari bahasa yunani yang artinya Pecinta (Philo) Kebijaksanaan (Sophia). Kebijaksanaan dapat dipahami sebagai kebenaran. Atau dalam arti lain kesesuaian antara konsep/pikiran/akal budi manusia dengan realitas yang ada. Filsafat berusaha menemukan kebenaran yang hakiki, terlepas dari sudut pandang pengamat (subjek). Benar yang sebagaimana adanya. Benar sejauh hal itu murni benar.

Baca juga: Apakah Manusia Akan Tetap Bekerja dan Berkarir di Surga Nanti?



Apa itu filsafat?


Filsafat dapat digunakan untuk menganalisis berbagai masalah yang terdapat di sekitar manusia, contohnya politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum. Filsafat jauh dari pengertian teoritis atau praksis. Filsafat lebih menganalisis 'akar-akar' suatu permasalahan. Ibarat sebuah pementasan drama, filsafat tidak bicara seputar teknik pementasan (aktor, pencahayaan, dialog, dsb), namun filsafat akan bicara mengenai konsep atau tema yang ingin disampaikan dalam drama tersebut.


Cabang-cabang ilmu filsafat?


Secara umum, para ahli membagi bidang studi filsafat menjadi beberapa cabang atau bagian. Adapun cabang-cabang filsafat adalah sebagai berikut:

1. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan. Misalnya; asal mula, validitas, metodologi, bentuk atau struktur, yang secara bersama-sama membentuk pengetahuan manusia (Ensiklopedia Indonesia).

2. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat-sifat yang meliputi realitas yang dikaji (Wikipedia).

3. Logika
Logika (logike episteme) adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang kecakapan dalam berpikir secara teratur, lurus, dan tepat (Wikipedia).

4. Etika
Etika adalah cabang filsafaat yang mempelajari tentang norma atau aturan yang digunakan sebagai pedoman berperilaku di dalam masyarakat terkait dengan sifat baik dan buruk.

5. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang mempelajari dan membahas tentang keindahan, bagaimana keindahan dapat terbentuk, dan bagaimana keindahan tersebut dapat disadari dan dirasakan oleh manusia.

6. Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari dan menjawab berbagai pertanyaan terkait hakikat ilmu, dan penerapan berbagai metode filsafat dalam upaya mencari akar persoalan dan menemukan asas realitas yang dipersoalkan oleh bidang ilmu tersebut untuk mendapatkan kejelasan.

Baca juga: Siapa Itu Sosok 'Dewei Fortuna'?

Apa yang sering disalahpahami tentang filsafat?

kesalahan memahami ilmu filsafat


Orang awam sering membeberkan pendapat yang sembarangan terkait ilmu filsafat itu sendiri. Jika menyampaikan pendapat, pastikan kamu telah mengerti apa yang ingin kamu utarakan. Berikut, hal-hal yang sering disalah artikan tentang filsafat:


  • Filsafat sering dianggap ilmu metafisis yang tidak ada hubungannya sedikitpun dengan realita.
  • Filsafat sering dianggap tidak aplikatif
  • Filsafat sering dianggap hanya berupa adu sanggah ide yang tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Yang benar hanya masalah mana yang cocok untuk masing-masing.
  • Filsafat hanya terkait dengan -isme-isme pemikiran.
  • Filsafat adalah ilmu yang rumit dan memusingkan
  • Filsafat terkait dengan ateisme
  • Yang belajar filsafat cenderung nyentrik dan aneh.
  • Filsafat tidak bisa diselaraskan dengan agama.
  • (Bagi sebagian muslim) Filsafat itu haram.

Bagaimana cara belajar filsafat?

Belajar filsafat tidak semudah yang dibayangkan, tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan pula. Lantas, bagaimana caranya? Jika serius, kamu bisa mengambil jurusan filsafat saat kuliah.


Tanpa kuliah filsafat, hal-hal berikut bisa kamu jalani:
  • Latih kebiasaan dasar seorang filsuf.
  • Baca materi-materi pengantar seperti The History of Western philosophy. Dalam bentuk novel, Dunia Sophie juga bagus. Sayangnya buku-buku ini sedikit membahas filsafat timur. Saya juga menyarankan The Philosophy Book: Great Ideas Simply Explained, bahasanya ringan dan ada diagram-diagram yang menjelaskan pemikiran filsuf. Buku ini berfokus pada tokoh-tokoh filsafat, bukan cabang-cabang ilmu pada filsafat.
  • Setelah itu, baru baca materi-materi yang lebih lanjut. Coba Stanford Encyclopedia of Philosophy.
  • Praktekkan. Pertanyakan hal-hal di sekeliling kamu. Pertanyaan filosofi biasa dimulai dengan “apa” atau “mengapa” (Mengapa dunia tercipta?). Pertanyaan “bagaimana” lebih umum ditemui di pertanyaan-pertanyaan ilmiah.

Apakah belajar filsafat menjadikan kita ateis?

Filsafat adalah hal yang penting dalam kehidupan, mampu menjawab segala pertanyaan dengan metode berpikir yang logis dan tidak terikat norma dan dogma. Seakan membaca buku bercover filsafat merupakan indikasi menuju sesat, atau ciri-ciri bahwa pembacanya mau murtad. Tapi sebenarnya tidak demikian kawan, sungguh tidak. Belajar filsafat tidak menjadikan kita ateis!


Bisa dikatakan, filsafat merupakan area bebas dogma, dan yang terpenting kamu cukup rasional untuk act like a philosopher. Rasional di sini merupakan kata kunci, bekal paling utama bagi siapapun untuk merasa berhak berfilsafat. Maka jelas, filsafat bukan hanya monopoli mereka yang Ph.D atau mahasiswa pada sebuah gedung bernama Faculty of Humanity, melainkan milik semua yang diberi anugrah akal oleh Yang Maha Kuasa.

Ludwig Feurbach


Atas kesadaran bahwa filsafat lebih mengandalkan logika ketimbang menghormati dogma, maka muncullah pemikiran-pemikiran yang menyatakan diri sebagai Ateisme. Sebut saja Ludwig Feurbach yang terkenal dengan ‘Manusia menciptakan Tuhan’, mari kita hormati pandangannya sebentar. Menurutnya, keberadaan Tuhan, malaikat, surga-neraka dan agama, merupakan proyeksi manusia untuk mengakui suatu ke-Maha-an. Hegellian (pengikut Hegel –filsuf yang mengasosiasikan Tuhan sebagai roh semesta) satu ini berpendapat bahwa sejatinya itu semua sudah ada dalam diri manusia sebagai kosmos. 

Manusialah pusat jagat raya sehingga sudah sepatutnya memulangkan ke-Maha-an tersebut dalam dirinya. Feurbach tidak sendirian dalam pandangan akan ateisme, kawannya antara lain Jean Paul Satre (yang terkenal itu), bapak psikoanalisis Freud, dan yang cukup kondang dengan “God Is Dead” yaitu Frederich Nietzche. Namun yang menarik, Nietzsche tidak secara literal menyatakan ateis. Ia menganggap bahwa Tuhan telah mati dalam kehidupan beragama di Eropa, Dia bukanlah sosok humanis dan tidak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Maka merupakan tugas manusia untuk membunuhnya.

Menilik keberadaan ateisme dalam filsafat (jangan berputih mata dulu, orang filsafat banyak kok yg ibadah) yang dikukuhkan oleh beberapa tokoh, tidak mengherankan bila beberapa orang memilih untuk berpikir demikian, entah atas pengaruh seseorang maupun berada di bawah tanggung jawab pemikiran sendiri. Tetapi yang seyogyanya perlu diingat dan dipatri dalam hati kita, adalah adagium bahwa filsafat membawa pada kebijaksanaan. 


Lover of wisdom. Logika dan rasionalitas macam apapun harus diimbangi dengan pengertian awal bahwasanya pergerakan filsafat mengarah pada sikap arif (yg kalau di KBBI berarti menggunakan akal-budi/pengetahuan cs pengalaman). Seseorang belum dikatakan filsuf jika ia belum meraih kebijaksanaan hakiki, yang logis dan mengerti.

Demikian ulasan lengkap mengenai ilmu filsafat, semoga dapat menambah wawasan kita bersama dan terimakasih sudah membaca.

Sumber: maxmanroe, moondoggiesmusic,  seputarilmu, quora

Posting Komentar

0 Komentar