-->

Perkembangan Psikologi Manusia Menurut Usia

CASHDIK.COM - Watak dan perilaku manusia dalam bersosialisasi dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing. Misalnya, seorang anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang keras dan tidak harmonis maka anak tersebut cenderung berperilaku kasar, tidak sopan, sulit bergaul, cenderung pendiam dan sebagainya.

Definisi kepribadian adalah ciri dan watak seseorang yang konsisten dan melekat pada dirinya hingga menjadi ciri khas tiap individu.  

Dalam tinjauan sosiologi, kepribadian merupakan bentuk personalitas yang dinamis. Artinya, kepribadian terus berubah dan berkembang seiring berjalan waktu. Konsep kepribadian yang dinamis ini dicetuskan oleh Erik Erikson salah seorang tokoh psychological, dari teori psiko-sosialnya bahwa terdapat delapan tahap perkembangan manusia, dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian.

Perkembangan psikologi manusia


Faktor yang memperngaruhi pembentukan kepribadian

Identitas pribadi seseorang itu tumbuh dan terbentuk melalui perkembangan proses krisis psikososial yang berlangsung dari fase ke fase yang mana fase tersebut dipengaruhi atau dibatasi oleh umur manusia.

1. Warisan biologis 

Warisan biologis adalah sesuatu yang tidak bisa diubah karena menyangkut genetik atau keturunan. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakitnya.

Baca juga: Melihat Isi Kepala Si Cowok Introvert

2. Lingkungan 

Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora,dan sebagainya.

3. Kebudayaan 

Kebudayaan yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian dapat berupa budaya khusus daerah atau etnis tertentu, cara hidup yang berbeda antara desa dengan kota, dan lain sebagainya. Selain itu, kelas sosial, agama, dan pekerjaan masing-masing individu juga berpengaruh membentuk watak dan personalitas seseorang. 

4. Pengalaman kelompok 

Kepribadian juga dipengaruhi dari hubungan sosial dan pengalaman kelompok, misalnya dengan siapa seseorang bergaul dan berinteraksi, dan lain sebagainya. 

5. Pengalaman khusus atau unik

Setiap orang memiliki pengalaman unik masing-masing yang memengaruhi kepribadiannya. Setiap pengalaman tersebut pasti berbeda. Kendati kejadiannya sama, namun selalu ada makna dan penafsiran berbeda terkait pengalaman tersebut. 

Baca juga: 10 Trik Psikologi untuk Mempengaruhi Lawan Bicara

Psikologi berasal dari kata psyche dan logos; yang mempunyai ‘jiwa’ dan ‘ilmu’. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki dan membahas tentang proses jiwa atau mental dan perbuatan atau tingkah laku manusia dalam rangka berinteraksi dengan lingkungan kehidupannya

Erikson juga mengungkapkan bahwa kepribadian akan terbentuk 'sempurna' jika seseorang berhasil melalui masa krisisnya. Kalau tidak, maka ia akan larut (deffuse) ditelan arus kehidupan masyarakat yang terus berkembang.

Erik Erikson mencetuskan tingkatan perkembangan psikologi lewat beberapa tahapan sebagai berikut:

Tahapan Psikologi menurut Erik Erikson

  1. Masa bayi (infancy) fase yang dilewati adalah Trust vs Mistrust. Trust disini adalah rasa cinta dasar dari orang tua yang kedepannya akan membentuk 'kepercayaan' seorang anak. Ini fase paling fundamental untuk tahap selanjutnya.
  2. Balita (toddler) fase yang dilewati adalah Autonomy vs Shame and Doubt. Pada fase ini Jika kita berhasil memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan dirinya sendiri maka ia akan memiliki sifat autonomy atau mandiri, jika gagal maka ia akan menjadi anak yang ketergantungan, pemalu dan ragu-ragu.
  3. Masa anak-anak (preschoolers) fase yang dilewati adalah Intiative vs Guilty. Pada fase ini anak mesti diberikan kebebasan untuk mengeksplore agar menumbuhkan pribadi yang dapat berinsiatif (intuitive) jika selalu dilarang/ditegur maka ia akan menjadi pribadi yang selalu diliputi perasaan serba salah (guilty).
  4. Masa sekolah (grade schoolers) fase yang dilewati adalah Accomplishment vs Inferiotity. Pada fase ini pribadi kita akan dituntut melakukan sesuatu pekerjaan dengan sempurna, jika gagal dalam fase ini maka akan timbul bibit rendah diri (inferiority).
  5. Masa Remaja (Teenage) fase Identity vs Confusion. Pada fase ini biasanya akan timbul pertanyaan filosofis seperti siapa aku? Untuk apa aku di dunia? Kenapa aku harus beragama? Dan lain sebagainya, jika berhasil menjawab pertanyaan diri tersebut maka hasilnya adalah penemuan jati diri jika tidak maka akan berada dalam kebingungan (confusion).
  6. Masa dewasa muda (Young adults) fase Intimacy vs Isolation. Fase ini biasanya dituntut untuk hidup bermasyarakat jika bisa melewatinya maka akan tumbuh keakraban (intimacy) dan jika tidak maka akan tumbuh pribadi yang merasa diasingkan (isolation).
  7. Masa dewasa (Middle age) fase Generativity vs Stagnation. Fase ini adalah fase peningkatan produktifitas jika berhasil produktif maka akan muncul gairah hidup (generativity) dan jika tidak maka cukup puas saja dengan keadaan (stagnan).
  8. Masa Tua (late adult) fase Integrity vs Despair. Fase ini jika fase sebelumnya muncul gairah hidup maka tinggal mendapat hasilnya saja berupa penghargaan di tengah - tengah masyarakat (integrity). Jika tidak maka ia akan merasa sepi dan kurang berharga (despair).

Fase-fase tersebut muncul karena adanya hubungan antara perkembangan kebutuhan dasar manusia dengan kepribadian. Yang mana setiap bertambahnya umur kebutuhan akan berubah dan tentunya mempengaruhi kepribadian.


LihatTutupKomentar