-->

Sejarah Kelam Patih Gajah Mada dan Perang Bubat

Patih Gajah Mada dikenal sosok yang gagah berani, patih terbesar Kerajaan Majapahit, jendral perang, hingga pahlawan nasional. 

Sekadar informasi, patih adalah sebutan untuk orang berkedudukan tinggi, setara gubernur atau perdana menteri.

Banyak artikel menyebutkan bahwa Gajah Mada adalah pahlawan nusantara dari Kerajaan Majapahit. Dia begitu diagungkan sebagaimana tertulis di buku-buku bertema kepahlawanan.

Sejarah perang bubat dan patih gajah mada

Bahkan kelahiran Gajah Mada pun diiringi dengan mitos turun-temurun. Ada yang bilang kalau dia adalah anak dari Dewa Brahma, ada yang menyebut Gajah Mada lahir begitu saja dari pohon kelapa. Kisah lain menyebutkan lahirnya Gajah Mada sudah disetujui adi kodrati yang artinya dia ditakdirkan untuk menjadi orang terkenal sekaligus disegani.

Benarkah Gajah Mada sehebat itu?

Seperti peribahasa, tak ada gading yang tak retak. Informasi dari sejarah menyebutkan bahwa Gajah Mada bukanlah nama asli, diduga Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pangon sang pengawal setia Raden Wijaya.

Kitab Pararoton menyebut bahwa kata “gajah” mengacu pada hewan yang dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai vahana, (hewan tunggangan) Dewa Indra. Gajah milik Indra dinamai Airavata. Sementara “mada” dalam bahasa Jawa Kuno berarti ‘mabuk’.

Kamu pasti sudah sering mendengar mitos kalau orang jawa tidak boleh menikah dengan orang sunda. Mitos itu ternyata berasal dari Gajah Mada.

Cerita bermula di kerjaan Majapahit, tahun 1357 Masehi. Prabu Hayam Wuruk selaku raja kerajaan Majapahit di tanah Jawa yang berencana mempersunting putri dari Kerajaan Pajajaran yang terletak di Sunda. Putri tersebut bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Tujuannya yakni sebagai media menjalin tali persaudaraan, sekaligus membangun hubungan politik antar kerajaan.

Sejarah kelam kerajaan majapahit dan kerajaan sunda

Prabu Hayam Wuruk sendiri diduga tertarik dengan Putri Dyah Pitaloka, sejak melihat potretnya dalam lukisan karya seniman Sungging Prabangkara. Beliau pun akhirnya mengirimkan surat lamaran kepada ayah sang putri, yakni Maharaja Linggabuana. 

Lamaran tersebut diterima dengan baik. Hanya saja terdapat keberatan, sebab Prabu Hayam Wuruk menghendaki pernikahannya dengan Putri Dyah dilangsungkan di Majapahit. Bukannya di tanah Sunda.

Hyang Bunisora Suradipati selaku DKP (Dewan Kerajaan Pajajaran) menyampaikan keberatan. Ia berpendapat bahwa seharusnya pihak laki-laki lah yang menemui pihak perempuan, bukan malah sebaliknya. Beberapa orang pun turut curiga dan berpendapat bahwa jangan-jangan hal ini merupakan jebakan Majapahit untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.

Keberatan tersebut pun ditolak. Maharaja Linggabuana memutuskan untuk tetap membawa rombongan putrinya ke Majapahit atas banyak pertimbangan. Salah satunya yaitu karena garis leluhur Pajajaran dan Majapahit bersaudara. Pendiri Majapahit di Jawa yang bernama Raden Wijaya dianggap sebagai keturunan raja sunda bernama Rakeyan Jayadarma.

Rombongan Putri Dyah Pitaloka akhirnya tiba di pesanggrahan/tempat peristirahatan bernama Bubat. Kedatangan mereka pun diterima dengan hormat.

Awal Mula Sejarah Perang Bubat

Melihat kedatangan rombongan tersebut, Patih Gajah Mada hendak melakukan penaklukan demi memenuhi sumpah palapanya. Yakni menyatukan kerajaan-kerajaan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. 

perang bubat

Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Sayangnya, belum lagi Hayam Wuruk memberikan keputusan, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya ke Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal dan anggota kerajaan berjumlah kecil. Pihak Sunda pun gugur.

Putri Dyah Pitaloka yang masih hidup akhirnya melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Selain itu, perbuatan ini diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian wanita yang laki-lakinya telah gugur. Yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Akibat insiden perang ini, karier Gajah Mada menurun. Hubungannya dengan sang Prabu menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak Majapahit karena tindakannya dianggap terlalu berani, gegabah, dan lancang. Dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan Raja Hayam Wuruk.

Pada akhurnya, Gajah Mada disingkirkan dari urusan politik istana Majapahit. Sejak itu, Gajah Mada yang masih menjabat sebagai Mahapatih Amangkubhumi, namun tidak memiliki hak untuk menerapkan kebijakan di Majapahit.

Ketika Gajah Mada mangkat pada tahun 1364, Hayam Wuruk merasa kehilangan atas seorang yang sangat diandalkan dalam memerintah kerajaan. Wafatnya Gajah Mada dapat dikatakan sebagai detik-detik awal dari keruntuhan Majapahit.

Sementara itu, keberanian Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati dimuliakan oleh rakyat Sunda. Raja Lingga Buana pun dijuluki "Prabu Wangi" yang berarti raja yang harum, karena sikap kepahlawanannya. Raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Mitos Perang Bubat

Dari tahun ke tahun, tragedi perang bubat berhasil merusak hubungan antara Kerajaan Sunda dan Jawa. Hingga terciptalah mitos populer yang berkembang di kalangan masyarakat, mengenai orang sunda yang dilarang menikah dengan orang Jawa.

Kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit sendiri tercermin dengan tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit" di Kota Bandung, pun sebaliknya, tidak ada nama jalan berbau Sunda di Jawa Timur dan Yogyakarta.
LihatTutupKomentar